Sudah lebih 1 bulan Indonesia mengumumkan keadaan darurat akibat penyebaran virus COVID-19. Berbagai daya dan upaya pun sudah dilakukan untuk melakukan pencegahan penyebaran yang makin hari angkanya semakin bertambah. Setiap hari Juru Bicara COVID-19, Achmad Yurianto mengumumkan data pertambahan korban. Meski data yang diungkapkan terlihat sederhana, namun proses pengumpulan data ini telah melalui serangkaian kegiatan yang kompleks dan dilakukan dari seluruh Indonesia. 

Data tersebut kemudian kembali digunakan oleh WHO sebagai pusat data wabah COVID-19 seluruh dunia, agar membantu para pengambil keputusan menentukan langkah terbaik untuk menghentikan penyebaran COVID-19. Sehingga tanpa sadar kita sangat membutuhkan big data, lebih dari sebelum wabah ini merebak. 

Big data sendiri merupakan istilah untuk kumpulan data dalam jumlah besar dan kompleks, sehingga menjadikannya sulit untuk ditangani atau diproses jika hanya menggunakan manajemen basis data biasa atau aplikasi pemroses data tradisional. Pengembangan big data seringkali dikaitkan dengan Artificial Intelligence (AI) yang berperan sebagai software analisis data untuk membantu menafsirkan data dan menentukan perintah berikutnya.

Big data merupakan sumber informasi bagi machine learning untuk mempelajari data dengan cepat secara otomatis. Algoritma sering memainkan peran yang sangat penting dalam struktur AI. Sistem ini akan mengetahui pola yang dibutuhkan untuk menentukan perbedaan, kemudian meningkatkan kemampuan identifikasi. AI terus berkembang untuk menguntungkan banyak industri yang berbeda. AI kini dihubungkan menggunakan pendekatan lintas disiplin ilmu yang berbasis di matematika, ilmu komputer, linguistik, psikologi, dan banyak lagi.

Salah satu contoh pengembangan big data dan AI pada masa wabah Corona bisa dilihat di Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan menggunakan platform big data untuk menyimpan informasi semua warga negara. Sehingga setiap kali seseorang dinyatakan positif COVID-19, dalam waktu 10 menit AI akan mengirimkan pesan semua orang yang ditemui penderita dalam kurun waktu 2 minggu untuk melakukan tes COVID-19. Pesan tersebut juga dikirimkan ke layanan kesehatan untuk penyiapan alat tes. Hasilnya, pada minggu pertama di bulan April, jumlah penderita positif COVID-19 di Korea Selatan mencapai 10 ribu orang dari hampir 440 ribu orang yang sudah dites.

Lalu bagaimana penerapan Big data di Indonesia? Meski belum secanggih Korea Selatan, namun berkat kehadiran industri 4.0, Indonesia berhasil melakukan transformasi digital dengan data center sebagai basis pengembangan platform layanan digital. Telkomsigma sebagai anak usaha TelkomMetra, merupakan salah satu data center terbaik di Indonesia, dan telah memperoleh sertifikasi layanan tier 3 dan tier 4, untuk membantu transformasi digital pada lebih dari 290 perusahaan. 

Dengan telah tersedianya data center, tentu sangat membantu pemerintah Indonesia dalam membuat berbagai aplikasi melawan COVID-19, seperti aplikasi PeduliLindungi. Aplikasi ini bekerja menggunakan teknologi bluetooth, untuk merekam dan bertukar informasi dengan (pengguna) gadget lain yang sudah terdaftar di PeduliLindungi. Ketika Anda berada dalam jarak yang berdekatan dengan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pengawasan (ODP), petugas kesehatan akan menghubungi Anda.

Beberapa aplikasi sejenis juga sempat diulas oleh tim TelkomMetra pada artikel mengenai 4 Aplikasi Lawan COVID-19. Dua aplikasi di antaranya, inaRISK BNPB dan Recon rencananya akan melakukan integrasi database. Proses integrasi kedua aplikasi ini menggunakan konsep pertukaran data atau lazim disebut dengan application programming interface (API). Integrasi database ini adalah salah contoh penggunaan big data untuk mendapatkan solusi efektif dan efisien dalam memperkaya fitur sebuah aplikasi.

Namun peran big data dalam melawan COVID-19 tetap membutuhkan partisipasi warga Indonesia, agar data tersebut bisa dimanfaatkan pemerintah secara maksimal. Maka marilah kita bersama-sama membantu pemerintah dengan menggunakan 4 Aplikasi Lawan COVID-19.