
Beberapa negara di Eropa dan Asia telah mengumumkan rencana untuk mengakhiri lockdown, dan segera memulai fase baru yang kemungkinan tidak akan kembali pada ‘normal’ yang lama. Pendekatan untuk menghadapi ‘the new normal’ tentu akan berbeda-beda, tergantung pada adaptasi sektor industri masing-masing.
Dari awal penyebaran Covid-19 dan pemberlakuan karantina wilayah, Chief Information Officer (CIO) dan Chief Technology Officer (CTOs) telah melakukan upaya heroik untuk mengatasi perpindahan kerja jarak jauh bagi karyawan melalui aplikasi kolaboratif. Bahkan banyak CTO masih harus memperkuat layanan digital mereka, ketika berbagai layanan offline berpindah ke online, untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin meningkat.
Namun keterlibatan mereka akan terus dibutuhkan saat perusahaan meminta rencana baru dalam beberapa minggu ke depan saat pembatasan dilonggarkan. Dalam sebuah artikel yang sempat dirilis McKinsey, konsultan bisnis ternama ini memberikan 3 tips cara yang perlu dilakukan para CIO dan CTO menghadapi ‘new normal’:
Mempercepat Transformasi Digital
Bagi para CIO dan CTO yang sudah memulai transformasi digital, mereka berada dijalur yang benar. Selanjutnya mereka bisa mempercepat proses digitalisasi perusahaan dengan infrastruktur teknologi yang lebih relevan, aman, dan mampu memenuhi harapan yang muncul baik dari pelanggan maupun internal.
Riset McKinsey menunjukkan bahwa 55 persen konsumen di Cina kemungkinan akan terus berbelanja online setelah lockdown berakhir. Setali tiga uang, Indonesia juga mengalami peningkatan belanja (Gross Merchandise Volume) GMV di e-commerce sebesar Rp 36 triliun pada saat seruan Work From Home (WFH) dimulai, naik 26 persen dari rata-rata bulanan. Bahkan 51 persen responden dari penelitian yang dilakukan oleh Katadata ini mengaku baru pertama kali belanja online. Pada pertengahan Mei lalu pun Blanja.com mencatat ratusan penjual UMKM telah membuka toko di e-commerce milik anak usaha TelkomMetra ini, berkat program Program BNI Kreasi Nusantara Craft Online.
Pertumbuhan di masa ‘new normal’ membutuhkan pengembangan platform penjualan digital. Seperti Walmart yang membuat online store virtual dengan shop assistant yang akan mendampingi pengunjung berbelanja, dan produsen mobil di Asia telah mengembangkan ruang pamer virtual yang memungkinkan pelanggan mengunjungi dealer dari rumah.
McKinsey menyarankan para eksekutif untuk menyusun kembali roadmap dari transformasi digital mereka, agar sesuai dengan kebutuhan jangka pendek agar sesuai dengan bisnis digital yang baru. Ketika krisis ekonomi mulai hadir, sebagian besar perusahaan sudah memiliki agenda transformasi digital. Namun agenda tersebut belum diarahkan kepada tujuan bisnis mereka yang sebenarnya.
Pengambilan Keputusan Berbasis Data
Proses produksi akan membutuhkan konfigurasi ulang rantai pasokan dengan perhitungan berasal dari data komersial dan logistik. Sumber data tambahan juga harus dipertimbangkan untuk membantu keputusan strategis.
Sebagai contoh, beberapa perusahaan distribusi telah mengadaptasi model inventaris mereka berdasarkan data regresi dari COVID-19 di tingkat regional. Selama masa karantina, McKinsey telah meneliti tentang sentimen konsumen dan preferensi yang berkembang pesat. Sejalan dengan McKinsey, hasil survei Jakpat menunjukkan 59 persen masyarakat Indonesia menonton TV untuk mengisi waktu selama physical distancing. Kebiasaan ini lebih tinggi dibanding bermain media sosial (53 persen).
Para Chief Marketing Officer (CMO) akan membutuhkan lebih banyak data terperinci untuk mengendalikan digital marketing dan belanja media demi merangsang permintaan pasar dengan ketepatan yang lebih akurat. Dengan kenaikan waktu menonton di televisi di masa Social Distancing, Mediahub sebagai anak usaha TelkomMetra dan penyedia konten Waku Waku Japan, HGTV, Discovery serta AFN di TV berbayar, dapat membantu CMO memberikan rekomendasi untuk beriklan, dengan jumlah penonton (viewer) yang dilaporkan secara akurat.
Review Proyek Teknologi
Penurunan pendapatan yang telah diprediksi di awal kuartal akan menghasilkan tekanan pada biaya produksi dan kapasitas investasi. Pada saat yang sama, tools kolaborasi WFH telah diadopsi dan eksekutif ingin mempercepat transformasi digital mereka untuk memenuhi permintaan e-commerce.
CIO dan CTO harus memprioritaskan ulang program teknologi, proyek, dan pembelian hardware, dengan tujuan berkontribusi pada pengurangan biaya perusahaan selama krisis, dan mengarahkan investasi teknologi baru yang diperlukan untuk memulai kembali dan meningkatkan skala bisnis digital.
Maka sangat penting bagi CIO dan CTO menjalin hubungan menguntungkan dari partner konsultan yang tepat, agar membantu mereka mengarahkan transformasi digital perusahaan semakin relevan dengan kondisi terkini dan mampu bertahan dalam ekosistem digital.