Smart Logistic Bantu Perusahaan Logistik Tingkatkan Ketepatan dalam Pengiriman Barang

Published at 25/03/2021

Whats New

 
 
 

Logistik telah memainkan peran penting sejak awal pandemi Covid-19 dalam mengirimkan makanan dan alat kesehatan. Sayangnya dalam memenuhi ketepatan waktu dan penghematan biaya, para penyedia layanan logistik masih menghadapi kendala logistik. Bahkan menurut Frost and Sullivan, Indonesia memiliki biaya logistik termahal di Asia, yakni sebesar 24% dari Produk Domestik Bruto (PDB) 

Padahal prinsip dasar logistik adalah melakukan integrasi dari berbagai sumber daya untuk mengirimkan barang sampai ke tangan pelanggan, dalam keadaan baik dengan tepat waktu dan efisien.

Karena pada intinya, logistik membutuhkan integrasi dari pengadaan, transportasi, manajemen persediaan, dan aktivitas pergudangan dalam menyediakan alat/cara yang berbiaya efektif, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, baik internal maupun eksternal.

Dalam video TanyaBosque episode 2, Niam Dzikri sebagai Direktur Utama TelkomMetra sempat mengungkapkan betapa pentingnya peluang dari smart logistic dalam distribusi vaksin Covid-19 ke seluruh Indonesia. Berbekal teknologi Internet of Things (IoT) dan Global Positioning System (GPS), smart logistic bisa mengawal distribusi vaksin melalui sistem pelacakan dan monitor suhu agar vaksin bisa sampai tepat waktu dan dalam keadaaan tetap aktif.

Karena seiring dengan tingginya nilai barang yang dikirim, maka kebutuhan akan kontrol dan monitoring menjadi semakin besar. Informasi produk yang menunjukkan seluruh sejarah perjalanan merupakan fakta yang dibutuhkan. Sehingga menjadi nilai tambah apabila perusahaan logistik mampu memberikan informasi di mana produk mereka secara real-time, bukan hanya pada saat barang berada di checkpoint

Smart Logistic di Pengelolaan Gudang
Di masa pandemi, pengelolaan gudang penyimpanan pun memerlukan teknologi yang mendukung penerapan protokol kesehatan Covid-19. Perusahaan logistik harus memastikan setiap personil non-reaktif dengan penggunaan thermal detector yang dilengkapi dengan face recognition di seluruh akses masuk penyimpanan barang. Sehingga bila kedapatan personil reaktif, maka data dari face recognition bisa segera dikirim ke pusat data untuk dilakukan tindakan pencegahan yang diperlukan.

                                                          

Selain perlindungan terhadap personil, perusahaan logistik juga harus memantau kinerja berbagai mesin penunjang penyimpanan, mulai dari mesin pendingin hingga pengangkut barang. Karena masalah sekecil apapun, dapat menyebabkan keterlambatan dan penambahan biaya yang tidak terduga.

Maka untuk membantu tim maintenance yang bekerja memelihara mesin secara berkala, perusahaan logistik juga membutuhkan perangkat IoT untuk mengirimkan data secara real-time dan memastikan mesin tidak bekerja melebihi parameter yang sudah ditentukan, yang berakibat pada kerusakan lebih awal dan membuat kerugian dari sisi perusahaan logistik dan konsumen.

Bahkan penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang berbasis cloud bisa memberikan informasi mengenai prediksi kapan mesin tersebut memerlukan perawatan atau penggantian komponen.

Namun smart logistics membutuhkan empat aspek pendukung, yakni jaringan sensor, jaringan seluler dan internet, komputasi awan, dan aplikasi layanan. Karena dengan kombinasi inilah, perusahaan logistik baru bisa menjalankan smart logistic yang komprehensif.

TelkomMetra sebagai perusahaan digital teknologi dengan anak usaha dan parentingnya Nutech (Thermal detector & Face Recognition), PINS (IoT) dan Bosnet (Smart Logistic) telah banyak membantu maupun berkecimpung di dunia logistik, selalu berusaha membantu visi pemerintah untuk terus mengurangi biaya logistik Indonesia.