
Bagi perusahaan yang sudah memulai transformasi digital, banyaknya data yang dihasilkan kadang membuat sistem komputasi menjadi kewalahan. Untuk mengoptimalkan pengelolaan data lokal, edge computing bisa menjadi opsi menarik.
Karena edge computing adalah sistem komputasi yang memproses seluruh lalu lintas data sedekat mungkin dengan sumber untuk mengurangi latensi dan penggunaan bandwidth. Secara sederhana, edge computing adalah sebuah proses komputasi yang dapat mengurangi rute pengolahan data dari lokal dan perangkat Internet of Things (IoT) ke sistem cloud.
Dengan kata lain edge computing merupakan bagian yang terkait erat dengan IoT, yang mana proses pengiriman datanya dilakukan sedekat mungkin dari produsen data menuju micro data center.
Seperti kita ketahui, perangkat IoT sangat tergantung pada koneksi internet dalam mengirimkan data secara real-time dengan jangka waktu yang panjang. Jika lalu lintas data terhambat, maka dampaknya akan sangat fatal bagi para pengambil keputusan.
Meminimalisir Resiko Downtime
Dengan edge computing, resiko keterlambatan pengiriman data ini bisa diatasi. Sehingga dapat diringkas, bahwa edge computing hampir sama dengan cloud computing, namun dalam skala mikro.
Seperti ketika sebuah pabrik yang berada di lokasi terpencil. Alih-alih mengirimkan informasi ke pusat data di jakarta, pabrik akan mengirimkan data ke kantor cabang terdekat menggunakan teknologi SD-WAN.
Pada 2019 lalu, Gartner telah memprediksi bahwa pada tahun 2025 nanti, 75 persen data perusahaan akan diolah menggunakan sistem komputasi edge. Dengan tingginya semangat perusahaan untuk melakukan transformasi digital di tengah pandemi Covid-19 yang mulai melanda di awal 2020 lalu, tentu prediksi ini akan semakin nyata.
Penggunaan edge computing ternyata sangat sesuai dengan kondisi yang tengah dihadapi perusahaan. Pasalnya, survei Tech Research Asia menyebutkan penggunaan edge computing mampu menekan biaya operasional hingga 46 persen dengan menghemat biaya bandwidth yang ditengarai masih belum stabil.
Sehingga hal ini menepis anggapan bahwa edge computing sekedar tren, namun merupakan sebuah solusi pemrosesan data yang terbukti membantu perusahaan mengatasi masalah latensi, tuntutan operasional, dan keamanan, terutama di lingkungan seperti saat ini.
Teknologi edge computing sendiri memungkinkan setiap perusahaan yang memiliki banyak cabang di berbagai daerah untuk mengelola data perangkatnya dengan cepat. Untuk itu dibutuhkan infrastruktur pendukung agar mampu memberikan layanan yang optimal, baik di SaaS (Software as a Service), PaaS (Platform as a Service), maupun di IaaS (Infrastructure as a Service), sehingga infrastruktur data center menjadi hal yang penting dan utama untuk diperhatikan.
Jika melihat dari kemampuan edge computing, teknologi ini digadang-gadang dapat meningkatkan keamanan, keandalan, dan memodernisasi infrastruktur digital perusahaan namun dengan biaya yang lebih terjangkau.
Tantangan Edge Computing
Meski dapat menjadi solusi pengolahan data yang andal dan efisien, penerapan teknologi edge computing juga memiliki tantangannya sendiri. Banyak perusahaan yang menggunakan edge computing yang tidak terstandarisasi, yang akhirnya akan mempersulit proses integrasi.
Untuk penerapan edge data center dalam skala besar, sangatlah penting untuk melakukan prakonfigurasi lokasi dengan micro data center. Tidak hanya itu, instalasi plug and play juga diperlukan. Micro data center harus dirancang untuk pemeliharaan minimal karena lokasinya mungkin sulit untuk diakses dan berbiaya tinggi.
Dengan berbagai tantangan tersebut, maka sangat penting bagi perusahaan untuk memilih rekanan yang tepat saat mulai melakukan transformasi digital di bidang edge computing, tentu dengan partner sudah memiliki solusi dan portofolio yang sesuai dengan kebutuhan di masa depan perusahaan.